WANITA INDONESIA

TAK SELALU DI KANVAS  Sejak Kecil Winnie Senang menggambar, maka ia bercita-cita suatu saat memiliki studio lukis. Namun selepas SMA […]

WANITA INDONESIA

TAK SELALU DI KANVAS 

Sejak Kecil Winnie Senang menggambar, maka ia bercita-cita suatu saat memiliki studio lukis. Namun selepas SMA ia dituntut mengawinkan idealismenya dengan realita. Orang tua Winnie memberi kesempatan padanya untuk kuliah sesuai hobinya, dengan catatan masih ada peluang kerjanya.

Maka dia pun memilih jurusan desain, produk di Rhode Island School of Design Amerika Serikat. Disana die belajar merancang sekaligus mengaplikasikan desainnya delam berbagai bahan, Mulai dari plastik,metal,hingga kayu “bukan hanya mendesain lantas diserahkan ke tukang, Semua dikerjakan sendiri mulai dari memilih bahan ,memotong hingga memasangnya,” Cerita Winnie. dari hasil tugas kuliahnya, die punya beberapa kursi ,

Bayangannya saat itu ,asyiknya kalo punya studio sendiri. Namun saat kembali ke Indonesia Setelah 4 tahun menyelesaikan studi, Winnie langsung di minta orang tuanya membantu usaha restoran mereka, jadilah ia mengaplikasikan karyanya untuk interior restoran. Namun tak lama kemudian usaha kuliner ini terpaksa ditutup lantaran merugi.

Winnie kemudian mengarjakan berbagai proyek di antaranya membuat ilustrasi sampul buku. Sayangnya, tren saat itu lebih menggemari sampul buku dari hasil grafis komputer. Di sela itu, ia mendalami seni lukis pada Syahnagra Ismail. Seru, ia berkeliling Ke beberapa daerah di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan sebagianya untuk melukis keindahan alamnya.

“Tapi menjadi seniman di Indonesia tidak mudah, wadahnya nggak ada,” ujarnya. Apalagi ia tak punya banyak teman, pasalnya, meski kampus terbaik di Amerika, tak banyak orang Indonesia melanjutkan kuliah di sana. Buktinya, selama 30 tahun hanya ada sekitar 50 orang lulusan.

Menikah dengan sesama seniman pada 2009, Winnie sempat tinggal di kota Gudeg, Yogyakarta. Setahun kemudian ia langsung dikaruniai anak, Argani, Sekarang 5 tahun. Di sela waktu merawat bayinya itu, Winnie menghasilkan banyak gambar di kertas. Kebanyakan temanya tentang anak kecil dengan kostum satwa, suatu ketika ia mencetak gambar-gambarnya itu secara digital dalam bentuk kartu ucapan, Ternyata digemari para ekpatriat yang berkunjung ke berbagai bazar yang diikutinya.

“Kalau melukis dengan cat minyak sulit untuk disambi merawat bayi. Lagi pula di kertas bisa menghasikan banyak gambar dan nantinya bisa diolah digital,” katanya.

Beberapa tahun kemudian dia diminta kembali ke Jakarta, turut mengurus usaha farmasi keluarga. Dia berperan di bagian purchasing dan harus ngantor seperti karyawan lainnya. Begitu anak keduanya lahir, Dhira, kini hampir 3 tahun, Winnie mengaku tak sanggup menjalani jam kerja demikian, ia ingin lebih banyak merawat anak di rumah. Mulailah wanita 37 tahun ini memandukan kemampuan melukisnya dengan keahliannya mendesain.

Ia melanjutkan kegemarannya menggambar, entah untuk ilustrasi buku atau dicetak digital, menjadi kartu ucapan dan hiasan dinding.

“Harga lukisan kanvas biasanya mahal. Jadi banyak orang tua berfikir dua kali untuk menghias kamar anak mereka. Makanya gambar-gambar itu kemudian saya touch up lalu dicetak digital. Baik dalam bentuk kartu ucapan atau art work untuk bingkai pajangan. Jadi harganya tidak mahal,”

Katanya benar saja produk ini banyak peminatnya, terutama para ekspatriat di kawasan Kemang Jakarta Selatan ,

“Mungkin hampir di setiap kamar anak ekspatriat di kemang ada gambar saya,” cerita Winnie, senang.

SI TERATAI KECIL                                                                                                                            Seiring Berjalannya waktu, Winnie mulai memindahkan lukisannya di media tas, dompet, atau kaus. Karena dalam pengamatannya, orang Indonesia terutama Jakarta, senang tampil dengan produk-produk fesyen.

Begitulah kini ia punya gerai di Darmawangsa Square, namanya Kamalika Artprints, Winnie juga menitipkan produknya di Alun-alun Indonesia Grand Indonesia, Chic Mart kemang, Sogo, dan Temple Tree. Ia juga mengekspor karyanya ke Prancis dan Spanyol.

“Beberapa pemilik toko suvenir di lokasi wisata minta saya membuatkan gambar sebagai oleh-oleh khas daerah masing-masing,” syukurnya. Soal pemilihan nama, dalam bahasa Sansekerta kamalika berarti bunga teratai kecil. Rupanya sama arti dengan nama Tionghoa pemberian kakeknya, Ay Lian. Kebetulan dia juga anak paling kecil dari 3 bersaudara.

“Saya pingin punya nama yang menggambarkan saya tapi dengan kata-kata yang lebih nyeni. Kalau pakai Winarti nanti kesannya penjual pecel lagi, hehehehe,” candanya. Dengan usaha ini, Winnie punya banyak keuntungan. Materi pasti, menyalurkan hobi jelas.

Menambah pergaulan tentu saja, dan yang paling penting, ini pekerjaan fleksibel yang waktunya bisa diatur di sela menjaga buah hatinya. Seperti saat menjumpai WI pada Rabu, 1 April. Setelah mengurus sarapan dan persiapan anak-anak, sekitar pukul 7, ia sendiri yang mengantar mereka ke sekolah. Saat anak-anak belajar inilah Winnie bekerja, mengecek gerai, rumah produksi, atau belanja bahan baku. Setelah itu ia menjemput anak-anak dan memusatkan perhatiannya pada segala aktivitas mereka. Saat dua buah hatinya terlelap, barulah Winnie kembali bekerja, menggambar. Biasanya kata dia, dari pukul 10 malam hingga sekitar pukul 2 dini hari. Gambar ini kemudian ia setor pada para karyawannya yang membantu produksi

Dalam setahun paling tidak Winnie membuat dua tema, Natal dan lainnya. “Tahun 2015 ini saya mengeluarkan seri Joko Tarub dan Bawang Merah – Bawang Putih,” katanya.

Menjelang bazar besar seperti Indonesia Fashion Week dan Inacraft, produksinya meningkat berkali lipat. Kesibukan Winnie juga bertambah dengan menyiapkan toko online.