KOMPAS

LUKISAN BERJALAN WINNIE Winarti Handayani (37) memimpikan hidup sebagai seniman. Ia pernah memamerkan karya-karya lukisnya secara tunggal. Namun, garis nasib […]

KOMPAS

LUKISAN BERJALAN WINNIE

Winarti Handayani (37) memimpikan hidup sebagai seniman. Ia pernah memamerkan karya-karya lukisnya secara tunggal. Namun, garis nasib lulusan Rhode Island of Design, Amerika Serikat ini berkata lain.

Selepas kuliah jurusan Desain Produk di AS, ia plg ke tanah air dan diminta mengurus bisnis restoran ayahnya. Hanya berlangsung beberapa tahun karena restoran itu kemudian tutup. Winarti kemudian berusaha mewujudkan mimpinya menjadi pelukis. Ia menggelar pameran tunggal tahun 2008 yang memamerkan 40 karya lukisannya di Taman Ismail Marzuki.

Sambil masih terus menghidupi mimpinya sebagai pelukis, Winnie menjadi ilustrator lepas untuk buku-buku anak. Namun, kesukaannya melukis saat itu juga terbentur dengan tren saat itu yang menggemari desain sampul buku dari hasil grafis komputer, “ Jarang yang mau menerima atau mengerjakan gambar dengan gambar” kata Winnie.

Setelah menikah, Winnie memilih lebih berkonsentrasi mengurus anak. Ia pun kemudian memutar otakmencari garapan yang sesuai dengan perannya saat ini sebagai ibu yang langsung mengurusi anak-anaknya. Sejak dua tahun lalu, Winnie kemudian mulai melukis dengan media kartu-kartu ucapan atau kanvas yang lebih kecil dengan menggunakan cat air. “ Melukis dengan cat air masih bisa ditinggal-tinggal kalau saya perlu mengurusi anak. Beda dengan melukis menggunakan cat minyak,” kisah Winnie.

“Saya ingin karya seni tidak hanya dinikmati di museum atau galeri, tetapi juga bisa diakses siapa saja dengan harga terjangkau. Dengan begitu, karya seni bisa dinikmati banyak orang,” kata winnie.

Ia memilih lukisan bertema anak-anak, seperti peri buah atau kostum binatang, kostum lebah, badak bercula satu, kelinci atau peri jambu, buah naga, mangga, dan manggis dengan warna warni cat air yang memikat pandang. Ia juga membuat tema-tema kota-kota di Indonesia, seperti jakarta dan bandung. Beberapa karyanya dibuat dengan pensil warna ketika dituangkan ke media kain kanvas tampak seperti gambar asli yang digoreskan ditas kain.

Winnie sengaja memilih tema dunia anak-anak agar anak-anak juga memiliki gambar-gambar yang sesuai dengan usia mereka. Hasil lukisannya kemudian dicetak digital ke berbagai media mulai dari kartu ucapan, tas, dompet, bungkus laptop, kaos, hingga lukisan. Winnie juga pernah mencetak lukisannya diatas piring. Namun jumlah yang dibuatnya terbatas karena dimaksudkan sebagai benda koleksi.

“Ekspatriat suka sekali sama kartu-kartu dan lukisan saya yang dicetak digital. Budaya mereka berkirim kartu dan memasang lukisan masih kuat. Beda dengan kita,” kata Winnie.

Ia kemudian mempelajari bahwa orang Indonesia setidaknya senang tampil. Winnie kemudian memindahkan lukisannya ke segala sesuatu yang bisa dipakai, seperti tas, dompet, atau kaos. Setelah itu respon pasar baru terlihat dan terjadi pengelompokan. “ Orang Indonesia lebih suka beli tas atau dompet, orang asing lebih memilih kartu dan lukisan,” ungkap bungsu dari tigas bersaudara ini.

Teratai kecil

Karya Winnie selain dapat ditemui di gerai pribadinya di The Darmawangsa Square, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, juga ia titipkan di berbagai gerai lainnya seperti di Alun-Alun Indonesia, Chic Mart Kemang, Sogo dan Temple Trees di Jakarta dan beberapa gerai di Bali. Ia juga rajin mengikuti berbagai pameran, seperti Inacraft dan Indonesia Fashion Week, harga produknya bervariasi, mulai dari 7.000 untuk kartu ucapan yang berukuran mini, 90.000 untuk lukisan cetak digital berukuran A4, 100.000 untuk dompet dan tas kecil hingga 400.000 untuk tas berukuran lebih besar.

Ia memilih label kamalikaartprints untuk produk-produknya. Kamalika dalam bahasa sansekerta berarti teratai kecil. Rupanya ada alasan khusus ia memilih nama itu. Sang kakek memberinya nama dalam bahasa mandarin, Ay Lian yang mempunyai arti teratai cinta.

Bagi winnie teratai juga memiliki filosofi khusus, yakni tanaman yang berjuang dan berkembang menjadi cantik meski hidup ditempat berlumpur dan kotor. Ia ingin karya-karyanya juga demikian, selalu menampilkan keindahan.

Kini, Winnie dibantu sembilan pegawai yang mengerjakan produksi, administrasi dan marketing. Namun tidak jarang Winnie juga harus turun langsung ke lapangan. Selain harus selalu mengawasi proses produksi, ia juga harus siap menjaga langsung gerainya saat pegawainya sakit atau berhalangan hadir. Ia bersiap menawarkan sesuatu yang baru pada pameran besar yang akan ia ikuti awal april mendatang.