Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA- Lukisan kerap dikaitkan sebagai benda eksklusif. Layaknya karya seni pada umumnya, butuh keahlian khusus untuk menghasilkan lukisan. Karena […]

Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA- Lukisan kerap dikaitkan sebagai benda eksklusif. Layaknya karya seni pada umumnya, butuh keahlian khusus untuk menghasilkan lukisan. Karena dibuat menggunakan kemampuan tangan, tak ada satu pun karya seni yang benar-benar identik.Bahkan, pelukis memerlukan waktu berhari-hari hingga berbulan-bulan untuk merampungkan sebuah karya.

Hal ini tak pelak membuat harga lukisan terbilang mahal. Apalagi jika karya lukis tersebut dibuat oleh seniman ternama. Sang pelukis atau penjualnya bisa membanderol dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Tak heran, lukisan-lukisan tersebut hanya bisa dimiliki oleh kalangan tertentu. Padahal, banyak masyarakat umum yang ingin memajang karya seni di dinding rumah mereka.

Mahalnya harga lukisan membuat beberapa seniman merasa prihatin. Mereka pun mencari cara agar karya mereka bisa dinikmati dan dimiliki oleh masyarakat awam. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan teknologi mesin cetak. Konsep ini populer disebut artprints. Setelah melukis menggunakan tangan, para seniman ini mencetaknya ke atas kertas dan kain. Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari poster, kartu ucapan, tas, hingga dompet. Alhasil, konsumen memburu produk-produk buatan para pelukis tersebut.

Salah satu pelukis yang sukses memproduksi aneka artprints adalah Winarti Handayani. Di bawah bendera Kamalika Artprints, perempuan berusia 35 tahun ini memulai bisnis sejak akhir 2011 silam.

Winarti mengaku sudah akrab dengan dunia seni lukis sejak dia kecil. Setelah beranjak dewasa, dia menekuni hobi tersebut dan berhasil menelurkan banyak karya dan ikut serta di beberapa pameran lukisan.

Setelah melahirkan seorang anak pada 2010 silam, dia mengatakan kecintaannya untuk melukis tetap ada. Sayangnya, waktunya habis untuk membesarkan dan menjaga sang buah hati.

“Ketimbang melukis di atas kanvas berukuran besar, saya coba menggambar di media yang ukurannya lebih kecil. Kegiatan ini saya lakukan di antara waktu mengasuh anak. Waktu itu, saya bikin kartu ucapan dengan cat air,” ujar lulusan jurusan desain produk dari Rhode Island School of Design di Amerika Serikat ini.

Kartu ucapan buatan Winarti ternyata dilirik oleh seorang teman. Lukisan cat air tersebut diperbanyak menggunakan teknik cetak (print). Dari situ, dia menyarankan Winarti untuk mengikuti bazar produk kreatif. Tak disangka, respons yang didapat sangat positif. Dia pun melihat hal ini sebagai peluang bisnis baru yang bisa digeluti.

Seiring berjalannya waktu, kartu ucapan Kamalika Artprints makin dikenal masyarakat. Sayangnya, pelanggan Winarti rata-rata adalah kaum ekspatriat yang tinggal di Jakarta.

“Orang Indonesia tidak terlalu suka mengirim kartu ucapan. Mereka lebih suka membeli barang yang bisa dipakai,” katanya.

Berbekal pemikiran itu, Winarti pun memproduksi barang-barang lain yang lebih fungsional. Beberapa di antaranya adalah pajangan, tas, dompet, bahkan kaos.

Meski tampak seperti dilukis pada setiap benda, produk Kamalika Artprints sebenarnya tidak sepenuhnya dibuat menggunakan tangan. Gambar-gambar tersebut dia lukis dan dibuat menjadi materi cetak. Setelah itu, gambar buatan Winarti diperbanyak dengan menggunakan mesin cetak khusus berkualitas bagus.

Winarti menggunakan beberapa cara untuk memasarkan produk Kamalika Artprints. Setelah sebelumnya dia banyak bergerilya di bazar dan pameran produk kreatif, kini dia mempromosikan produknya di dunia maya. Selain itu, dia juga bekerja sama dengan beberapa toko modern yang ada di Jakarta dan Bali.

Seiring berjalannya waktu, bisnis Kamalika Artprints terus meningkat. Jika dulu dia melakukan semuanya sendirian, kini dia dibantu oleh 5 orang karyawan. Dalam satu bulan, dia dan karyawannya mampu menghasilkan 500 produk.

Harga produk Kamalika Artprints dibanderol mulai dari Rp7.000 untuk kartu ucapan dan Rp700.000 untuk lukisan dinding (wall painting).

“Omzet rata-rata mencapai Rp70 juta—Rp80 juta per bulan,” katanya.

Menurut Winarti, peluang bisnis dari produk artprints terbuka lebar. Selain mudah dikerjakan, pelaku usaha yang terjun ke bisnis ini belum terlalu banyak.

“Tujuan utama saya menjalankan Kamalika Artprints agar karya seni bisa dijual dengan harga terjangkau dan dimiliki siapa saja. Oleh karena itu, pelaku usaha tak boleh berhenti berkeasi dan memproduksi barang-barang yang dibutuhkan konsumen.”